Nama : Tri Noviliana
Nim : 11901290
Kelas : PAI 4C
Makul : MAGANG 1
Manajemen Kelas
Manajemen
merupakan terjemahan dari kata “Pengelolaan”. Karena terbawa oleh derasnya arus
penambahan kata kedalam Bahasa Indonesia, maka istilah Inggris tersebut
kemudian di Indonesiakan menjadi “Manajemen“. Arti dari manajemen adalah pengelolaan,
penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk
mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan.
Maka,
dapat disimpulkan bahwa pengelolaan atau manajemen adalah penyelenggaraan agar
sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien.Sebelum
kita membahas tentang manajemen kelas, alangkah baiknya kita ketahui terlebih
dahulu apa pengertian dari pada kelas itu sendiri. Didalam Didaktik terkandung
suatu pengertian umum mengenai kelas, yaitu sekelompok siswa pada waktu yang bersamaan
menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama ,jadi guru dan pelajara yang
sama . Sedangkan kelas menurut pengertian umum dapat dibedakan menjadi dua pandangan, yaitu pandangan dari segi fisik dan kedua pandangan
dari segi siswa.
DR.
Hadari Nawawi berpendapat bahwa manajemen kelas diartikan sebagai kemampuan
guru atau wali kelas dalam mendayagunakan berbagai potensi kelas berupa
pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan
kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah, sehingga waktu dan dana yang
tersedia dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien untuk melakukan
kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.
Dari uraian diatas jelas bahwa program kelas akan berkembang bilamana guru/wali
kelas mendayagunakan secara maksimal potensi kelas yang terdiri dari tiga unsur
yaitu ; guru, murid, dan proses atau dinamika kelas.
Dari
beberapa pendapat para ahli diatas dan masih banyak lagi pendapat yang lain,
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen kelas merupakan upaya mengelola
siswa didalam kelas yang dilakukan untuk menciptakan dan mempertahankan suasana/kondisi
kelas yang menunjang program pengajaran dengan jalan menciptakan dan
mempertahankan motivasi siswa untuk selalu ikut terlibat dan berperan serta
dalam proses pendidikan di sekolah.
·
Unsur- unsur pengelolaan kelas meliputi:
1. Preventif,
yaitu upaya yang dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinya gangguan dalam pembelajaran.
Beberapa upaya atau keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk mendukung terhadap tindakan preventis antara
lain :
a) Tanggap /
peka, sikap tanggap ini ditunjukkan oleh kemampuan guru secara dini mampu
dengan segera merespon terhadap berbagai prilaku atau aktivitas yang dianggap
akan mengganggu pembelajaran atau berkembangnya sikap maupun sifat negatif dari
siswa maupun lingkungan pembelajaran lainnya.
b) Perhatian
yaitu selalu mencurahkan perhatian pada berbagai aktivitas, lingkungan maupun
segala sesuatu yang muncul. Perhatian adalah
salah satu bentuk keterampilan dan kebiasaan yang harus dimiliki oleh guru supaya tidak acuh terhadap siswa.
2. Refrensif,
keterampilan refrensif tidak diartikan sebagai tindakan kekerasan seperti halnya
penanganan dalam gangguan keamanan. Keterampilan refrensif ialah sebagai salah satu unsur dari keterampilan pengelolaan
kelas.
3. Modifikasi
Tingkah laku, yaitu bahwa setiap tingkah laku dapat diamati.
·
Tujuan Manajemen Kelas
Tujuan
manajemen kelas mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan- kegiatan
tersebut menunjang proses pembelajaran di lembaga pendidikan (sekolah); lebih
lanjut, proses pembelajaran di lembaga tersebut (sekolah) dapat berjalan
lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian
tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.
Adapun beberapa tujuan dari manajemen kelas adalah sebagai berikut :
a. Agar
pengajaran dapat dilakukan secara maksimal, sehingga tujuan pengajaran dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
b. Untuk
memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya.
Dengan manajemen kelas, guru mudah untuk melihat dan mengamati setiap kemajuan
atau perkembangan yang dicapai siswa, terutama siswa yang tergolong lamban.
c. Untuk memberi
kemudahan dalam mengangkat masalah-masalah penting untuk dibicarakan dikelas
demi perbaikan pengajaran pada masa mendatang.Jadi, Manajemen kelas dimaksudkan
untuk menciptakan kondisi di dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas
yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya.
Kemudian, dengan manajemen kelas
produknya harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. berdasarkan dalil
al-Quran dalam (Q.S Ash Shaff : 4)
Terjemahan:
Sesungguhnya
Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Q.S Ash shaff:4)
Ayat tersebut
menceritakan tentang ketelodoran Sahabat nabi dalam perang Uhud, karena sebagai
pemimpin nabi tidak dianggap perkataannya. Padahal Rasulullah SAW telah mengajarkan
pada sahabatnya untuk tidak menyerang musuh sebelum membariskan pasukannya
dengan „merapat‟
·
Pelaksanaan Manajemen Kelas
Pelaksanaan
manajemen kelas yang efektif dalam pembelajaran ketika dapat mewujudkan kondisi
kelas sebagai lingkungan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk
mengembangkan kemampuan seoptimal mungkin, menghilangkan berbagai hambatan yang
dapat menghalangi interaksi pembelajaran, menyediakan dan mengatur fasilitas
yang mendukung siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan
intelektual siswa, serta dapat membimbing siswa sesuai dengan latar sosial,
ekonomi, budaya dan sifat/karakter siswa yang berbeda. Oleh karena itu, dalam
pelaksanaan pembelajaran perlu diketahui kondisi dan masalah yang terjadi pada
siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Setiap ada permasalahan yang terkait
dengan sikap siswa dan masalah ekstern lainnya, seorang guru berusaha untuk
mencari solusinya pada saat itu juga, agar tanggung jawab guru berfungsi dengan
maksimal. Dengan diterapkannya konflik kelas maka akan mengurangi masalah yang
terjadi dalam pembelajaran. Beberapa usaha preventif yang dilakukan untuk
mengatasi masalah adalah sebagai berikut:
1.
Memotivasi siswa agar konsentrasi pada Pelajaran
Siswa dapat berkonsentrasi/memusatkan pikirannya pada pelajaran
dengan baik, tergantung dari cara guru dalam mengelola kelas baik secara fisik
maupun non-fisik. Jadi, seorang guru harus selalu memberi semangat terhadap
siswanya agar konsentrasi dalam belajar.
2.
Mengkondisikan siswa untuk siap belajar di kelas
Dalam konteks proses pembelajaran, kesiapan untuk belajar sangat
menentukan aktivitas belajar siswa. Siswa yang belum siap belajar, cenderung
akan berprilaku tidak kondusif/ mendukung, sehingga pada
gilirannya akan mengganggu proses belajar secara keseluruhan. Oleh karena
kesiapan merupakan proses mental, maka guru dalam melakukan proses belajar
mengajar harus benar-benar memperhatikan kesiapansiswa untuk belajar secara
mental., Bahwasanya seorang guru selalu mengkondisikan siswa untuk siap
belajar dikelas, hal ini dilakukan agar hasil yang diperoleh dari proses
belajar mengajar bisa maksimal.
3.
Kesiapan atau readiness merupakan kesediaan untuk memberi respons
atau bereaksi.
Kesiapan amat perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika
siswa sudah ada kesiapan belajar, maka hasil belajarnya akan lebih baik. Pemberian
stimulus supaya aktif di kelas Salah satu masalah yang dihadapi guru untuk
menyelenggarakan pengajaran adalah bagaimana memotivasi atau menumbuhkan
motivasi dalam diri peserta didik secara efektif. Keberhasilan suatu pengajaran akan
sangat dipengaruhi oleh adanya penyediaan motivasi/dorongan. Berasarkan hasil
yang peneliti peroleh, bahwa seorang guru selalu memberikan motivasi kepada
siswa. Motivasi adalah pengajaran yang digunakan guru untuk memberi perhatian
dan dorongan kepada siswa apabila siswa tidak bisa memotivasi dirinya sendiri.
Suatu aktivitas belajar sangat lekat dengan motivasi, perubahan motivasi akan
merubah pula wujud, bentuk dan hasil belajar. Di samping itu dalam pemberian
motivasi guru juga memberikan stimulus kepada siswa dengan sebuah pemberian
reward pada siswa supaya aktif bertanya dikelas.
4.
Suasana Kelas Ruang Kelas
Berdasarkan hasil yang peneliti peroleh, ruang kelas sudah cukup
memadai dengan ukuran 63 m2 karena sudah melebihi dari ukuran dalam standar
sarana dan prasarana dengan jumlah siswa 35 dalam satu kelas dan sangat
memungkinkah siswabergerak leluasa dan tidak berdesak desakan dan memudahkan
siswa untuk melakukan aktifitas belajar.
5.
Pengaturan Tempat Duduk
Sebuah denah tempat duduk siswa-siswi dalam suatu kelas mempunyai
fungsi yaitu memudahkan guru untuk cepat menghafal nama-nama semua siswa
dikelas. Pengetahuan nama setiap siswa merupakan suatu alat psikologis yang
efektif bagi proses
pembelajaran. Pengaturan tempat duduk hendaklah fleksibel yang artinyadapat
diubah sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan hasil penelitian, pengaturan
mengenai tempat duduk biasanya dilakukan rolling dan diadakan mungkin seminggu
sekali atau sebulan sekali dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan.
Pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar di
kelas.
6.
Metode Pembelajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar, metode yang baik akam memudahkan siswa
untuk memahamai materi ,sangat diperlukan oleh seorang guru dan penggunaannya
yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pembelajaran
berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya, bila tidak
menguasai metode mengajar. Oleh karena itu, di sinilah kompetensi guru diperlukan
dalam pemilihan metode yang tepat. Dengan menguasai dari berbagai macam metode
dan bisa menempatkan pada situasi dan kondisi yang sesuai dengan keadaan siswa.
Berdasarkan hasil observasi serta wawancara peneliti dengan para guru bahwa beberapa
guru sudah menerapkan suatu teori yang ada dan sesuai yaitu dengan memilih
metode yang tepat yang mana metode ini diterapkan untuk mencapai tujuan yang
komprehensip yaitu dari ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Sehingga diharapkan
tujuan pembelajaran dapat dicapai sesuai yang diharapkan.
7.
Penggunaan Media
Penggunaan media memang memang turut mempengaruhi iklim, kondisi
dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. Pemakaian media pembelajaran
dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang
baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, bahkan membantu
pengaruh pengaruh psikologis terhadap siswa. Media yang digunakan sebaiknya
tidak monoton agar siswa tidak merasa bosan dan jenuh dalam belajar. Disamping
itu berdasarkan hasil penelitian bahwasanya dalam penggunaan media harus sesuai
dengan materi yang disajikan.
8.
Pola interaksi
Suatu pembelajaran dapat dikatakan efektif, apabila terjadi
interaksi yang baik antara guru dengan siswa dan bertujuan untuk mencapai suatu
tujuan belajar tertentu dengan cara memfasilitasi pengetahuan dan keterampilan
siswa melalui kegiatan/aktivitas yang dapat membantu dan memudahkan siswa dalam
belajar. Suatu interaksi dikatakan memiliki sifat edukatif atau mendidik bukan
semata ditentukan oleh bentuknya melainkan oleh tujuan interaksi itu sendiri
apakah baik atau buruknya. Dilihat dari tujuan interaksi yang dilakukan guru
untuk membangkitkan semangat belajar siswa, maka interaksi tersebut sudah
berlangsung secara edukatif. Akan tetapi dalam pelaksanaannya selain di dalam kelas juga terjadi diluar kelas.
Referensi
Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan
Kelas, Sebagai Lembaga Pendidikan( jakarta : gunung agung, 2000).
Hal. 116
Administrasi pendidikan UPI,manajemen Pendidikan
(Bandung; Alfabeta2008). Hal 206
http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/tarbawi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar