Rabu, 26 Mei 2021

Karakteristik Peserta Didik _ tugas 3

 

Nama : Tri Noviliana

Nim     : 11901290

Kelas   : PAI 4C

Makul : Magang 1

 

Karakteristik Peserta Didik

Karakteristik berasal dari kata karakter dengan arti tabiat/watak, pembawaan atau kebiasaan yang dimiliki oleh individu yang relatif tetap.  Menurut beberapa para ahli yaitu Moh. Uzer Usman (1989) Karakteristik adalah mengacu kepada karakter dan gaya hidup seseorang serta nilai-nilai yang berkembang secara teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan mudah di perhatikan. Ada juga menurut Sudirman (1990) Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.

Seangkan menurut Hamzah. B. Uno (2007) Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berfikir, dan kemampuan awal yang dimiliki. Siswa atau anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan pendidikan. Anak didik adalah unsur penting dalam kegiatan interaksi edukatif karena sebagai pokok persoalan dalam semua aktifitas pembelajaran (Saiful Bahri Djamarah, 2000).

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman atas karakteristik peserta didik dimaksudkan untuk mengenali ciri-ciri dari setiap peserta didik yang nantinya akan menghasilkan berbagai data terkait siapa peserta didik dan sebagai informasi penting yang nantinya akan dijadikan pijakan dalam menentukan berbagai metode yang optimal guna mencapai keberhasilan kegiatan pembelajaran.

Karakteristik peserta didik ada 13 meliputi: etnik, kultural, status sosial, minat, perkembangan kognitif, kemampuan awal, gaya belajar, motivasi, perkembangan emosi, perkembangan sosial, perkembangan moral dan spiritual, dan perkembangan motorik.

Empat pokok hal yang dominan dari karakteristik siswa yang harus dipahami oleh guru yaitu :

a.      Kemampuan dasar seperti kemampuan kognitif atau intelektual.

b.      Latar belakang kultural lokal, status sosial, status ekonomi, agama dll.

c.      Perbedaan-perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat, dll

d.     Cita-cita, pandangan ke depan, keyakinan diri, daya tahan,dll

Mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik peserta didik mempunyai tujuan yaitu :

a.      Memperoleh informasi yang lengkap dan akurat berkenaan dengan kemampuan serta karakteristik awal siswa sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu.

b.     Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan, serta kecenderungan peserta didik berkaitan dengan pemilihan program-program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka.

c.      Menentukan desain program pembelajaran dan atau pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.

Seorang guru jika ingin mengetahui karakteristik kemampuan awal dari peserta didik, dapat dilakukan dengan pemberian tes (pre – test). Selain itu pendidik dapat melakukan wawancara, observasi dan memberikan kuesioner kepada peserta didik, guru yang mengetahui kemampuan peserta didik atau calon peserta didik, serta guru yang biasa mengampu pelajaran tersebut.

Teknik untuk mengidentifikasi karakteristik siswa adalah dengan menggunakan kuesioner, observasi, interview, dan tes Latar belakang siswa. Untuk mengenal dan memahami peserta didik, guru hendaknya dibekali dengan Ilmu Psikologi Pendidikan, Ilmu Psikologi belajar dan Ilmu Psikologi Perkembangan serta ilmu kesulitas anak dalam belajar. Disiplin ilmu ini sudah mulai dilupakan atau kurang diperhatikan guru sehingga kesulitan demi kesulitan dialami guru ketika berhadapan dengan peserta didik. Hal ini tidak menghasilkan penyelesaian secara tuntas dan masalah itu tetap menyelimuti peserta didik yang memberatkan langkahnya dalam meraih cita-cita.

Beberapa karakteristik anak didik yang perlu dipahami oleh pendidik terutama dalam rangka melaksanakan praktek pendidikan, karakteristik tersebut antara lain:

1.     Anak didik adalah subjek

Maksudnya yaitu pribadi yang memiliki pribadi sendiri atau konsep diri sendiri. Mereka memiliki kebebasan dalam mewujudkan dirinya sendiri untuk mencapai kedewasaaannya. Maksudnya sebagai sasaran yang tidak dapat diperlakukan dan dibentuk dengan semena-mena oleh pendidiknya setuiap anak memiliki pilihannya masing masing.

2.     Anak didik adalah makhluk yang sedang berkembang

Setiap anak didik memiliki perkembangan yang berbeda-beda, dalam setiap proses perkembangan tersebut terdapat tahapan-tahapannya. Oleh karena itu setiap anak didik yang berada dalam tahap perkembangan tertentu/ berbeda menuntut perlakuan tertentu pula dari orang dewasa terhadapnya.

3.     Anak didik hidup dalam dunia sendiri

Setiap anak didik hidup dalam kehidupannya sesuai tahap perkembangannya, jenis kelaminnya, dan lain-lain. Anak didik harus diperlakukan sesuai dengan keanakannya atau sesuai dengan dunianya. Sebagai contoh adalah kehidupan anak SD berbeda dengan anak, SMP atau SMA. Oleh karena itu perlakuan pendidik terhadap anak SD, SMP dan SMA berbeda, sesuai dengan kebutuhan dan masanya tidak boleh menyama ratakan setiap anak tanpa memandang usia.

4.     Anak didik hidup dalam lingkungan tertentu

Anak didik adalah subjek yang berasal dari keluarga dengan latar belakang lingkungan alam dan sosial budaya tertentu.oleh karena itu, anak didik akan memiliki karakteristik tertentu yang berbeda – beda sebagai akibat pengaruh lingkungan dimana ia dibesarkan atau dididik. Dalam praktek pendidikan, pendidik perlu memeperhatikan dan memperlakukan anak didik dalam konteks lingkungan dan sosial budayanya.

5.     Anak didik memiliki ketergantungan kepada orang dewasa

Setiap anak itu unik memiliki kekurangan dan kelebihan tertentu, dalam perjalanan hidupnya, anak masih memerlukan perlindungan, anak masih perlu belajar berbagai pengetahuan, perlu latihan dan keterampilan, anak belum tahu membedakan yang bathil mana yang benar dan salah, yang baik dan tidak baik, serta bagaimana mengantisipasi kebutuhan dimasa depannya. Dibalik kebebasannya untuk mewujudkan dirinya sendiri dalam rangka mencapai kedewasaan, anak masih memerlukan bantuan orang dewasa.

6.     Anak didik memiliki potensi dan dinamika

Bantuan orang dewasa berupa pendidikan supaya dapat membuat anak didik menjadi dewasa akan mungkin dicapai oleh anak didik. Hal ini disebabkan anak didik memiliki potensi untuk menjadi manusia dewasa dan memiliki dinamika, yaitu aktif sedang berkembang dan mengembangkan diri, serta aktif dalam menghadapi lingkungannya dalam upaya mencapai kedewasaan.

Mengenal dan mememahami peserta didik dapat dilakukan dengan berbagai cara memperhatikan dan menganalisa tutur kata (cara bicara ), sikap dan prilaku atau perbuatan anak didik, karena dari tiga apek di atas setiap orang (anak didik ) mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya (karakter atau jiwa ). Untuk itu seorang guru harus secara seksama dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik dalam setiap berbagai aktivitas pendidikan.

Kepercayaan akan adanya fitrah yang baik pada diri manusia akan mempengaruhi implikasi-implikasi tentang  penerapan metode-metode yang seharusnya diterapkan dalam proses belajar mengajar. Dalam pendidikan Islam banyak metode yang diterapkan dan juga digunakan dalam pembentukan karakter. Menurut An-nahlawy metode untuk pembentukan karakter dan menanamkan keimanan, yaitu:

1.     Metode perumpamaan

Metode ini adalah penyajian bahan pembelajaran dengan mengangkat perumpamaan yang ada di dalam al-Qur’an. Metode ini mempermudah peserta didik dalam memahami konsep yang abstrak, ini terjadi karena perumpamaan itu mengambil benda konkrit seperti adanya kelemahan orang kafir yang diumpamakan dengan sarang laba-laba, dimana sarang laba-laba itu memang lemah sekali disentuh dengan lidi pun dapat rusak.

2.     Metode keteladanan

Metode keteladanan, adalah memberikan berbagai teladan atau contoh yang baik kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini adalah pedoman untuk bertindak dalam merealisasikan tujuan pendidik. Pelajar cenderung ingin meneladani pendidiknya, ini hendaknya dilakukan oleh semua ahli pendidikan,. dasarnya karena secara psikologis pelajar memang senang meniru, tidak saja yang baik, tetapi yang tidak baik juga ditiru.

3.     Metode ibrah dan mau`izah

Metode Ibrah adalah penyajian bahan pembelajaran yang bertujuan melatih daya nalar pembelajar dalam menangkap makna terselubung dari suatu pernyataan atau suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi dengan menggunakan nalar. Sedangkan metode Mau’izah adalah pemberian motivasi dengan menggunakan keuntungan dan kerugian dalam melakukan perbuatan

4.     Metode Hiwar Qurani/Kitabi

Metode dialog ini begitu menyadarkan kita akan adanya  kelemahan dan kekurangan. Dalam pendidikan seorang guru perlu melakukan dialog untuk menegtahui perkembangan siswa dan mengidentifikasi masalah masalah yang dapat menjadi faktor penghambat belajar. Untuk itu seorang guru harus memiliki sikap bersahabat, kasih sayang kepada peserta didik.Bila kita pahami dalam proses shalat terdapat dialog antara Allah dan hambaNya, seperti dalam surat Fatihah terjadi dialaog yang sangat dalam antar hamba dan Allah SWT.

5.     Metode Pembiasaan

Siswa diajarkan untuk membiasakan berprilaku mahmudah/ terpuji, giat belajar, bekerja keras, berrtanggung jawab atas setiap tugas yang telah diberikan.Salat dilakukan 5 kali sehari semalam ialah membiasakan umat manusia untuk hidup bersih dengan symbol wudhu, disiplin waktu denganditandai azan disetiap waktu salat. Pada saat ruku dan sujud umat muslim diajarkan untuk bersikap rendah hati terhadap tuhan. Sikap rendah hati inilah merupakan awal kemulian seseorang menghindarkan sifat sombong.

6.     Metode Targib dan Tarhib

Metode ini dalam teori metode belajar modern dikenal dengan reward dan funisment. Yaitu suatu metode dimana hadiah dan hukuman menjadi konsekuensi dari aktivitas belajar siswa, bila siswa dapat mencerminkan sikap yang baik maka ia berhak mendapatkan hadiah dan sebaliknya mendapatkan hukuman ketika ia tidak dapat dengan baik menjalankan tugasnya sebagai siswa.

Identifikasi karakteristik peserta didik adalah salah satu upaya para guru yang dilakukan untuk memperoleh pemahaman tentang tuntutan, bakat, minat, kebutuhan dan kepentingan peserta didik, berkaitan dengan suatu program pembelajaran tertentu. Tahapan ini dipandang begitu perlu mengingat banyak pertimbangan seperti;peserta didik, perkembangan sosial, budaya, ekonomi, ilmu

pengetahuan dan teknologi, serta kepentingan program pendidikan/pembelajaran tertentu yang akan diikuti peserta didik.

Salah satu upaya untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah dengan mengetahui kepribadian dan karakter anak. Untuk membangun dua hal tersebut tentu tidak dapat tumbuh dengan sendirinya. Anak memerlukan lingkungan subur yang sengaja diciptakan sehingga memungkinkan potensi anak dapat tumbuh optimal. Dengan demikian anak bisa tumbuh lebih sehat, cerdas dan berperilaku baik. Lingkungan yang dimaksud bisa melalui jalur pendidikan formal, seperti di sekolah dan jalur pendidikan informal, seperti di rumah.

Karakteristik siswa berbeda-beda antara satu dan lainnya, perbedaan karakteristik tersebut dapat diringkas menjadi tiga macam karakteristik, yaitu karakteristik siswa yang berkaitan dengan fisiologis, karakteristik siswa yang berkaitan dengan psikologis, dan karakteristik siswa yang berkaitan dengan lingkungan. Perbedaan karakteristik siswa berhubungan erat dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan, ada beberapa cara yang dapat dilaksanakan untuk mengurai perbedaan perbedaan tersebut, antara lain dengan memberikan program nutrisi kepada siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, menciptakan mekanisme sosial yang baik di antara para siswa, program remedial (perbaikan) bagi yang belum tuntas, dan meningkatkan  prosesionalisme guru.

Karakteristik siswa mempunyai hubungan positif dengan hasil pembelajaran. Artinya, semakin baik karakteristik setiap siswa maka hasil belajar akan cenderung semakin baik atau meningkat. Sebaliknya, karakteristik siswa yang tidak baik akan menyebabkan hasil belajar tidak baik atau menurun.

Perlunya pemahaman terhadap perkembangan peserta didik dimaksudkan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang akan dilaksanakan sehingga mampu meningkatkan motivasi belajar siswa Pola perilaku yang dimiliki siswa yang masing-masing memiliki perbedaan menyebabkannya mereka akan memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara satu dan yang lainnya.

 Perbedaan-perbedaan yang ada pada stiap diri merupakan hal yang sudah pasti, tidak ada satupun siswa yang mempunyai kesamaan dengan lainnya. Masing-masing perbedaan tersebut memiliki keunikan sendiri, satu aspek yang sama maka aspek yang lainnya belum tentu sama. Perbedaan tersebut merupakan salah satu faktor yang menjadi pendukung untuk mewujudkan kualitas sesuai dengan karakteristik yang dimiliki.

Dalam situasi pendidikan atau pengajaran terjalin suatu interaksi antara peserta didik dengan guru atau antara pendidik dengan peserta didik. Interaksi ini sesungguhnya merupakan interaksi antara dua kepribadian, yaitu kepribadian guru sebagai orang dewasa dan kepribadian peserta didik sebagai anak yang belum dewasa dan sedang mencari bentuk kedewasaan. Peserta didik diartikan sebagai anggota msyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jejang dan jenis pendidikan tertentu.

 

 

Referensi

Meriyati, 2015, memahami Karakteristik Anak Didik, Bandar Lampung  : Fakta Press lAIN Raden lntan Lampung

638-Article Text-1561-1-10-20200402

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar