Nama : Tri Noviliana
Nim :
11901290
Kelas : PAI 4C
Makul : Magang 1
Karakteristik Peserta Didik
Karakteristik
berasal dari kata karakter dengan arti tabiat/watak, pembawaan atau kebiasaan
yang dimiliki oleh individu yang relatif tetap. Menurut beberapa para ahli yaitu Moh. Uzer
Usman (1989) Karakteristik adalah mengacu kepada karakter dan gaya hidup
seseorang serta nilai-nilai yang berkembang secara teratur sehingga tingkah
laku menjadi lebih konsisten dan mudah di perhatikan. Ada juga menurut Sudirman
(1990) Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang
ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga
menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.
Seangkan menurut
Hamzah. B. Uno (2007) Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas
perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya
belajar, kemampuan berfikir, dan kemampuan awal yang dimiliki. Siswa atau anak
didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok
orang yang menjalankan pendidikan. Anak didik adalah unsur penting dalam
kegiatan interaksi edukatif karena sebagai pokok persoalan dalam semua aktifitas
pembelajaran (Saiful Bahri Djamarah, 2000).
Dari pengertian
tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman atas karakteristik peserta didik
dimaksudkan untuk mengenali ciri-ciri dari setiap peserta didik yang nantinya
akan menghasilkan berbagai data terkait siapa peserta didik dan sebagai informasi
penting yang nantinya akan dijadikan pijakan dalam menentukan berbagai metode
yang optimal guna mencapai keberhasilan kegiatan pembelajaran.
Karakteristik
peserta didik ada 13 meliputi: etnik, kultural, status sosial, minat, perkembangan
kognitif, kemampuan awal, gaya belajar, motivasi, perkembangan emosi,
perkembangan sosial, perkembangan moral dan spiritual, dan perkembangan motorik.
Empat pokok hal
yang dominan dari karakteristik siswa yang harus dipahami oleh guru yaitu :
a.
Kemampuan dasar
seperti kemampuan kognitif atau intelektual.
b.
Latar belakang kultural lokal, status sosial,
status ekonomi, agama dll.
c.
Perbedaan-perbedaan
kepribadian seperti sikap, perasaan, minat, dll
d.
Cita-cita,
pandangan ke depan, keyakinan diri, daya tahan,dll
Mengidentifikasi
kemampuan awal dan karakteristik peserta didik mempunyai tujuan yaitu :
a.
Memperoleh
informasi yang lengkap dan akurat berkenaan dengan kemampuan serta
karakteristik awal siswa sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu.
b.
Menyeleksi
tuntutan, bakat, minat, kemampuan, serta kecenderungan peserta didik berkaitan
dengan pemilihan program-program pembelajaran tertentu yang akan diikuti
mereka.
c.
Menentukan
desain program pembelajaran dan atau pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan
sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.
Seorang guru
jika ingin mengetahui karakteristik kemampuan awal dari peserta didik, dapat
dilakukan dengan pemberian tes (pre – test). Selain itu pendidik dapat
melakukan wawancara, observasi dan memberikan kuesioner kepada peserta didik, guru
yang mengetahui kemampuan peserta didik atau calon peserta didik, serta guru
yang biasa mengampu pelajaran tersebut.
Teknik untuk mengidentifikasi
karakteristik siswa adalah dengan menggunakan kuesioner, observasi, interview,
dan tes Latar belakang siswa. Untuk mengenal dan memahami peserta didik, guru
hendaknya dibekali dengan Ilmu Psikologi Pendidikan, Ilmu Psikologi belajar dan
Ilmu Psikologi Perkembangan serta ilmu kesulitas anak dalam belajar. Disiplin
ilmu ini sudah mulai dilupakan atau kurang diperhatikan guru sehingga kesulitan
demi kesulitan dialami guru ketika berhadapan dengan peserta didik. Hal ini
tidak menghasilkan penyelesaian secara tuntas dan masalah itu tetap menyelimuti
peserta didik yang memberatkan langkahnya dalam meraih cita-cita.
Beberapa
karakteristik anak didik yang perlu dipahami oleh pendidik terutama dalam
rangka melaksanakan praktek pendidikan, karakteristik tersebut antara lain:
1.
Anak didik
adalah subjek
Maksudnya yaitu pribadi yang memiliki pribadi sendiri atau konsep
diri sendiri. Mereka memiliki kebebasan dalam mewujudkan dirinya sendiri untuk
mencapai kedewasaaannya. Maksudnya sebagai sasaran yang tidak dapat diperlakukan
dan dibentuk dengan semena-mena oleh pendidiknya setuiap anak memiliki
pilihannya masing masing.
2.
Anak didik
adalah makhluk yang sedang berkembang
Setiap anak didik memiliki perkembangan yang berbeda-beda, dalam
setiap proses perkembangan tersebut terdapat tahapan-tahapannya. Oleh karena
itu setiap anak didik yang berada dalam tahap perkembangan tertentu/ berbeda
menuntut perlakuan tertentu pula dari orang dewasa terhadapnya.
3.
Anak didik
hidup dalam dunia sendiri
Setiap anak didik hidup dalam kehidupannya sesuai tahap perkembangannya,
jenis kelaminnya, dan lain-lain. Anak didik harus diperlakukan sesuai dengan
keanakannya atau sesuai dengan dunianya. Sebagai contoh adalah kehidupan anak
SD berbeda dengan anak, SMP atau SMA. Oleh karena itu perlakuan pendidik
terhadap anak SD, SMP dan SMA berbeda, sesuai dengan kebutuhan dan masanya
tidak boleh menyama ratakan setiap anak tanpa memandang usia.
4.
Anak didik
hidup dalam lingkungan tertentu
Anak didik adalah subjek yang berasal dari keluarga dengan latar belakang
lingkungan alam dan sosial budaya tertentu.oleh karena itu, anak didik akan
memiliki karakteristik tertentu yang berbeda – beda sebagai akibat pengaruh
lingkungan dimana ia dibesarkan atau dididik. Dalam praktek pendidikan,
pendidik perlu memeperhatikan dan memperlakukan anak didik dalam konteks
lingkungan dan sosial budayanya.
5.
Anak didik
memiliki ketergantungan kepada orang dewasa
Setiap anak itu unik memiliki kekurangan dan kelebihan tertentu, dalam
perjalanan hidupnya, anak masih memerlukan perlindungan, anak masih perlu
belajar berbagai pengetahuan, perlu latihan dan keterampilan, anak belum tahu membedakan
yang bathil mana yang benar dan salah, yang baik dan tidak baik, serta
bagaimana mengantisipasi kebutuhan dimasa depannya. Dibalik kebebasannya untuk
mewujudkan dirinya sendiri dalam rangka mencapai kedewasaan, anak masih
memerlukan bantuan orang dewasa.
6.
Anak didik
memiliki potensi dan dinamika
Bantuan orang dewasa berupa pendidikan supaya dapat membuat anak
didik menjadi dewasa akan mungkin dicapai oleh anak didik. Hal ini disebabkan
anak didik memiliki potensi untuk menjadi manusia dewasa dan memiliki dinamika,
yaitu aktif sedang berkembang dan mengembangkan diri, serta aktif dalam
menghadapi lingkungannya dalam upaya mencapai kedewasaan.
Mengenal dan
mememahami peserta didik dapat dilakukan dengan berbagai cara memperhatikan dan
menganalisa tutur kata (cara bicara ), sikap dan prilaku atau perbuatan anak
didik, karena dari tiga apek di atas setiap orang (anak didik ) mengekspresikan
apa yang ada dalam dirinya (karakter atau jiwa ). Untuk itu seorang guru harus
secara seksama dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik dalam
setiap berbagai aktivitas pendidikan.
Kepercayaan
akan adanya fitrah yang baik pada diri manusia akan mempengaruhi
implikasi-implikasi tentang penerapan
metode-metode yang seharusnya diterapkan dalam proses belajar mengajar. Dalam pendidikan
Islam banyak metode yang diterapkan dan juga digunakan dalam pembentukan
karakter. Menurut An-nahlawy metode untuk pembentukan karakter dan menanamkan
keimanan, yaitu:
1.
Metode
perumpamaan
Metode ini adalah penyajian bahan pembelajaran dengan mengangkat
perumpamaan yang ada di dalam al-Qur’an. Metode ini mempermudah peserta didik
dalam memahami konsep yang abstrak, ini terjadi karena perumpamaan itu
mengambil benda konkrit seperti adanya kelemahan orang kafir yang diumpamakan
dengan sarang laba-laba, dimana sarang laba-laba itu memang lemah sekali
disentuh dengan lidi pun dapat rusak.
2.
Metode
keteladanan
Metode keteladanan, adalah memberikan berbagai teladan atau contoh yang
baik kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini adalah
pedoman untuk bertindak dalam merealisasikan tujuan pendidik. Pelajar cenderung
ingin meneladani pendidiknya, ini hendaknya dilakukan oleh semua ahli
pendidikan,. dasarnya karena secara psikologis pelajar memang senang meniru,
tidak saja yang baik, tetapi yang tidak baik juga ditiru.
3.
Metode ibrah
dan mau`izah
Metode Ibrah adalah penyajian bahan pembelajaran yang bertujuan
melatih daya nalar pembelajar dalam menangkap makna terselubung dari suatu
pernyataan atau suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari
sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi dengan menggunakan nalar. Sedangkan
metode Mau’izah adalah pemberian motivasi dengan menggunakan keuntungan dan
kerugian dalam melakukan perbuatan
4.
Metode Hiwar
Qurani/Kitabi
Metode dialog ini begitu menyadarkan kita akan adanya kelemahan dan kekurangan. Dalam pendidikan
seorang guru perlu melakukan dialog untuk menegtahui perkembangan siswa dan
mengidentifikasi masalah masalah yang dapat menjadi faktor penghambat belajar.
Untuk itu seorang guru harus memiliki sikap bersahabat, kasih sayang kepada peserta
didik.Bila kita pahami dalam proses shalat terdapat dialog antara Allah dan
hambaNya, seperti dalam surat Fatihah terjadi dialaog yang sangat dalam antar
hamba dan Allah SWT.
5.
Metode
Pembiasaan
Siswa diajarkan untuk membiasakan berprilaku mahmudah/ terpuji,
giat belajar, bekerja keras, berrtanggung jawab atas setiap tugas yang telah
diberikan.Salat dilakukan 5 kali sehari semalam ialah membiasakan umat manusia untuk
hidup bersih dengan symbol wudhu, disiplin waktu denganditandai azan disetiap
waktu salat. Pada saat ruku dan sujud umat muslim diajarkan untuk bersikap
rendah hati terhadap tuhan. Sikap rendah hati inilah merupakan awal kemulian
seseorang menghindarkan sifat sombong.
6.
Metode Targib
dan Tarhib
Metode ini dalam teori metode belajar modern dikenal dengan reward
dan funisment. Yaitu suatu metode dimana hadiah dan hukuman menjadi konsekuensi
dari aktivitas belajar siswa, bila siswa dapat mencerminkan sikap yang baik
maka ia berhak mendapatkan hadiah dan sebaliknya mendapatkan hukuman ketika ia
tidak dapat dengan baik menjalankan tugasnya sebagai siswa.
Identifikasi
karakteristik peserta didik adalah salah satu upaya para guru yang dilakukan
untuk memperoleh pemahaman tentang tuntutan, bakat, minat, kebutuhan dan
kepentingan peserta didik, berkaitan dengan suatu program pembelajaran
tertentu. Tahapan ini dipandang begitu perlu mengingat banyak pertimbangan
seperti;peserta didik, perkembangan sosial, budaya, ekonomi, ilmu
pengetahuan dan teknologi, serta
kepentingan program pendidikan/pembelajaran tertentu yang akan diikuti peserta
didik.
Salah satu
upaya untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah dengan
mengetahui kepribadian dan karakter anak. Untuk membangun dua hal tersebut
tentu tidak dapat tumbuh dengan sendirinya. Anak memerlukan lingkungan subur
yang sengaja diciptakan sehingga memungkinkan potensi anak dapat tumbuh
optimal. Dengan demikian anak bisa tumbuh lebih sehat, cerdas dan berperilaku baik.
Lingkungan yang dimaksud bisa melalui jalur pendidikan formal, seperti di
sekolah dan jalur pendidikan informal, seperti di rumah.
Karakteristik
siswa berbeda-beda antara satu dan lainnya, perbedaan karakteristik tersebut
dapat diringkas menjadi tiga macam karakteristik, yaitu karakteristik siswa
yang berkaitan dengan fisiologis, karakteristik siswa yang berkaitan dengan
psikologis, dan karakteristik siswa yang berkaitan dengan lingkungan. Perbedaan
karakteristik siswa berhubungan erat dengan proses pembelajaran yang
dilaksanakan, ada beberapa cara yang dapat dilaksanakan untuk mengurai
perbedaan perbedaan tersebut, antara lain dengan memberikan program nutrisi kepada
siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, menciptakan mekanisme sosial
yang baik di antara para siswa, program remedial (perbaikan) bagi yang belum
tuntas, dan meningkatkan prosesionalisme
guru.
Karakteristik
siswa mempunyai hubungan positif dengan hasil pembelajaran. Artinya, semakin
baik karakteristik setiap siswa maka hasil belajar akan cenderung semakin baik
atau meningkat. Sebaliknya, karakteristik siswa yang tidak baik akan
menyebabkan hasil belajar tidak baik atau menurun.
Perlunya
pemahaman terhadap perkembangan peserta didik dimaksudkan untuk merancang
pembelajaran yang kondusif yang akan dilaksanakan sehingga mampu meningkatkan
motivasi belajar siswa Pola perilaku yang dimiliki siswa yang masing-masing
memiliki perbedaan menyebabkannya mereka akan memiliki karakteristik yang berbeda-beda
antara satu dan yang lainnya.
Perbedaan-perbedaan yang ada pada stiap diri
merupakan hal yang sudah pasti, tidak ada satupun siswa yang mempunyai kesamaan
dengan lainnya. Masing-masing perbedaan tersebut memiliki keunikan sendiri,
satu aspek yang sama maka aspek yang lainnya belum tentu sama. Perbedaan
tersebut merupakan salah satu faktor yang menjadi pendukung untuk mewujudkan
kualitas sesuai dengan karakteristik yang dimiliki.
Dalam situasi
pendidikan atau pengajaran terjalin suatu interaksi antara peserta didik dengan
guru atau antara pendidik dengan peserta didik. Interaksi ini sesungguhnya
merupakan interaksi antara dua kepribadian, yaitu kepribadian guru sebagai
orang dewasa dan kepribadian peserta didik sebagai anak yang belum dewasa dan
sedang mencari bentuk kedewasaan. Peserta didik diartikan sebagai anggota msyarakat
yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jejang
dan jenis pendidikan tertentu.
Referensi
Meriyati, 2015, memahami Karakteristik Anak
Didik, Bandar Lampung : Fakta Press lAIN
Raden lntan Lampung
638-Article
Text-1561-1-10-20200402
Tidak ada komentar:
Posting Komentar