Rabu, 14 April 2021

Kultur sekolah

Nama               : Tri Noviliana

Nim                 : 11901290

Kelas               : PAI 4C

Makul              : Magang 1

Kultur sekolah

Pengertian kultur sekolah yang dikemukakan oleh Deal &  Peterson (2011) ialah, Budaya sekolah merupakan himpunan norma- norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki beberapa seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf tersebut . Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan yang berurusan dengan budaya dimana  bekerja.

Menurut Peterson (2002), suatu budaya sekolah mempengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa tersebut.

Jadi dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial. Budaya sekolah juga memperngaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan tergantung kemampuan setiap sekolah dalam merancang pelayanan sekolah, jika sekolah mampu dalam melaksanakan pelayanan tersebut maka budaya sekolah akan cepat masuk.

Dalam kondisi demikian, dapat berkembang pola perilaku yang khas bagi siswa yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan, kegiatan-kegiatan, serta upacara-upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah adalah tugas sekolah yang khas yakni mendidik anak melalui penyampaian sejumlah pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), ketrampilan (psikomotorik) yang sesuai dengan kurikulum dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah itu. Sebagai sub-kultur, kultur sekolah hadir dalam berbagai variasi dalam praktiknya.

·       Implikasi Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah

Deal & Peterson (1999) memperluas kajian yang menunjukkan betapa kultur berpengaruh terhadap berjalannya fungsi sekolah. Berikut ini deskripsi mengenai aspek-aspek kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:

1.     Visi dan Nilai (Vision and Values)

Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur yang penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma yang positif, dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat dan vitalitas untuk perbaikan sekolah.

2.     Upacara dan Perayaan (Ritual and Ceremony)

Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya.

3.     Sejarah dan Cerita (History and Stories)

Sejarah dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah aliran sejarah dan peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada masa kini.

4.     Arsitektur dan Artefak (Architecture and Artifacts)

Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk memampangkan artefak fisik, efektif dalam menumbuhkan nilai dan spirit utama sekolah, misalnya melalui poster, majalah dinding, spanduk, dan pesan inspiratif lainnya.

 

·       Aneka Praktik Pengembangan Kultur Sekolah

Kultur sekolah dimiliki oleh tiap-tiap sekolah. Masing-masing sekolah dapat mengembangkan keunikan dan ciri khas melalui kultur sekolah. Adapun kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi pengembangan:

1.     Prestasi Akademik

Di sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik yang bertujuan untuk mencapai prestasi akademik. Prestasi akademik ini biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok yang dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa cenderung menghargai prestasi akademik daripada prestasi lainnya.

2.     Non-Akademik

Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis. Selama ini kebanyakan sekolah menganggap penting prestasi akademik siswa. Profil kecerdasan majemuk siswa yang bervariasi seringkali terabaikan. Padahal dalam realitasnya, kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik yang telah dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi non-akademiknya.

3.     Karakter

Karakter berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menarik, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik. Adapun variasi nilai karakter yang dapat dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: yang kondusif bagi pengembangannilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran, ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain.

4.     Kelestarian Lingkungan Hidup

Sejumlah sekolah yang fokus dalam pengembangan sekolah hijau (green school) memiliki visi-misi yang berorientasi pada kehidupan dan kondisi lingkungan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan (sustainability). Untuk mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan.

 

·       Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :

1.     Kultur yang terkait prestasi/kualitas : (a) semangat membaca dan mencari referensi; (b) keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup; (c) kecerdasan emosional siswa; (d) keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis; (e) kemampuan siswa untuk bagaimana berpikir obyektif dan sistematis.

2.     Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial : (a) nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan; (b) nilai-nilai keterbukaan; (c) nilai-nilai kejujuran; (d) nilai-nilai semangat hidup; (e) nilai-nilai semangat belajar; (f) nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain; (g) nilai-nilai untuk menghargai orang lain; (h) nilai-nilai persatuan dan kesatuan; (i) nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif; (j) nilai-nilai disiplin diri; (k) nilai-nilai tanggung jawab; (l) nilai-nilai kebersamaan; (m) nilai-nilai saling percaya; (n) dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).

 

Hedley Beare (Sastrapratedja, 2001: 14) mendeskripsikan unsur-unsur budaya sekolah dalam dua katagori, yakni unsur yang kasat mata/visual dan unsur yang tidak kasat mata. Yang tidak kasat mata itu adalah filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup, tugas manusia di dunia dan nilai-nilai, yaitu apa yang dianggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah. Itu semua harus dinyatakan secara konseptual dalam rumusan visi, misi, tujuan dan sasaran yang lebih konkrit yang akan dicapai sekolah.

 Adapun unsur yang kasat mata dapat termanifestasi secara konseptual/verbal maupun visual/ materil. Yang verbal meliputi: (1) visi, misi, tujuan dan sasaran;  (2) kurikulum; (3) bahasa komunikasi; (4) narasi sekolah; (5) narasi tokoh-tokoh; dan (6) struktur organisasi; (7) ritual; (8) upacara; (9) prosedur belajar-mengajar; (10) peraturan, sistem ganjaran/hukuman; (11) pelayanan psikologis sosial; (12) pola interaksi sekolah dengan orang tua/masyarakat, dan yang materiil dapat berupa: (1) fasilitas dan peralatan; (2) artifak dan tanda kenangan; (3) pakaian seragam.

            Disebutkan dalam buku Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah (Depdiknas, 2003: 3) bahwa kultur sekolah memiliki dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian tidak dapat diamati. Lapisan yang bisa diamati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda sopan santun dan cara berpakaian. Lapisan yang tidak dapat diamati secara jelas dapat berintikan norma perilaku bersama warga suatu organisasi. Lapisan keduakultur sekolah berupa nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar. Lapisan  kedua semuanya tidak dapat diamati karena terletak di dalam kehidupan bersama. Jika lapisan pertama yang berintikan norma perilaku bersama sukar diubah, maka lapisan kedua yang berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat sukar diubah serta memerlukan waktu untuk berubah.

Kultur sekolah beroperasi secara tidak disadari langsung oleh para pendukungnya dan telah lama diwariskan secara turun temurun. Kultur mengatur perilaku dan juga hubungan internal serta eksternal. Hal ini juga perlu dipahami dan digunakan dalam mengembangkan beberapa kultur sekolah. Nilai-nilai baru yang diinginkan tidak akan segera dapat beroperasi apa bila berhadapan/berbenturan dengan nilai-nilai lama yang sudah  berakar akan dapat menghambat  perilaku baru yang mau diinginkan.

Bila ditinjau dalam perspektif upaya peningkatan kualitas pendidikan, kultur sekolah dapat dibagi ke dalam tiga (3) kategori, yaitu; 1) Kultur sekolah yang positif; kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, misalnya kerjasama dalam mencapai prestasi yang diinginkan , dengan cara penghargaan terhadap prestasi, dan komitmen terhadap belajar. 2) Kultur sekolah yang negatif; kebiasaan atau kegiatan yang kontra terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan. Artinya dalam terhadap perubahan, berupa: guru, staf dan siswa tidak menunjukkan prestasi yang baik, kurang bersemangat dalam menjalankan tugas, apatis terhadap aturan sekolah dan jarang melakukan kerja sama. 3) Kultur sekolah yang netral; kegiatan yang tidak berfokus pada satu sisi namun dapat memberikan konstribusi positif terhadap perkembangan peningkatan mutu pendidikan. Hal ini bisa berupa adanya berupa arisan keluarga sekolah, mengadakan seragam guru, staf dan siswa dan koperasi sekolah.

Jadi bahwa kultur sekolah merupakan kebiasaan, nilai dan keyakinan yang terimplementasi dalam kegiatan sekolah Benang merahnya bahwa kultur sekolah merupakan kebiasaan, nilai dan keyakinan yang terimplementasi dalam kegiatan sekolah yang menuntut berbagai keterlibatan dan juga tanggung jawab warga sekolah demi peningkatan kualitas sekolah. Dengan demikian kultur sekolah yang diharapkan tercipta ialah kebiasaan positif warga sekolah demi tercapainya mutu sekolah.

 

Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kultur Sekolah

Sebagaimana dikemukakan oleh Taliziduhu Ndraha dalam bukunya, terbentuknya kultur sekolah memiliki faktor-faktor sebagai berikut:

1.     Faktor internal yaitu faktor yang bersumber dari dalam lingkungan sekolah itu sendiri. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah visi dan misi para pendiri organisasi yang dipengaruhi oleh nilai yang termuat di dalam hidupnya, latar belakang sosial, lingkungan dimana mereka dibesarkan serta jenis dan tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuhnya. Selain itu adalah faktor dari aspek-aspek lembaga pendidikan, yaitu tenaga pengajar, administrasi, manajerial dan lingkungan dalam lembaga itu.

2.     Faktor eksternal yaitu faktor yang bersumber dari lingkungan luar sekolah. Maksudnya yaitu seperti perkembangan IPTEK dalam globalisasi dunia yang berkembang semakin pesat, sehingga menimbulkan dampak yang sangat kuat terhadap berbagai bidang kehidupan, termasuk pada dunia pendidikan.

Dapat diambil kesimpulan bahwa dalam pengembangannya kultur sekolah terbentuk karena adanya pengaruh internal (dalam lingkungan sekolah seperti sistem di sekolah) dan eksternal (luar lingkungan sekolah seperti globalisasi dunia), yang mana keduanya memiliki pengaruh yang sama-sama kuat. Sehingga tugas daripada pemimpin sekolah seperti pendiri sekolah dan kepala sekolah adalah mereview kembali sistem yang sudah diberlakukan di sekolah.

 

Daftar pustaka

Depdiknas. (2003). Pedoman pengembangan kultur sekolah. Jakarta: Dikdasmen.

Peterson, Kent. D. 2002. Positive or Neevelopment Council.

Sastrapratedja SJ., M. (2001). Budaya sekolah. Dinamika pendidikan, No. 2, 1-18.

Taliziduhu Ndraha, Budaya Organisasi (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), hlm. 51.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar