Nama : Tri Noviliana
Nim :
11901290
Kelas : PAI 4C
Makul : Magang 1
Kultur sekolah
Pengertian
kultur sekolah yang dikemukakan oleh Deal & Peterson (2011) ialah, Budaya sekolah
merupakan himpunan norma- norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara,
simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk
membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa
bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan.
Setiap sekolah memiliki beberapa seperangkat harapan tentang apa yang dapat
dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya
pengembangan staf tersebut . Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir
tentang sekolah dan yang berurusan dengan budaya dimana bekerja.
Menurut
Peterson (2002), suatu budaya sekolah mempengaruhi cara orang berpikir, merasa,
dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan
sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa tersebut.
Jadi dalam hal
ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi dalam dinamika kultur sekolah yang
tetap menekankan pentingnya kesatuan, dan harmoni sosial pada sekolah, dan
realitas sosial. Budaya sekolah juga memperngaruhi kecepatan sekolah dalam
merespon perubahan tergantung kemampuan setiap sekolah dalam merancang
pelayanan sekolah, jika sekolah mampu dalam melaksanakan pelayanan tersebut maka
budaya sekolah akan cepat masuk.
Dalam kondisi
demikian, dapat berkembang pola perilaku yang khas bagi siswa yang tampak dari
pakaian, bahasa, kebiasaan, kegiatan-kegiatan, serta upacara-upacara. Sebab
lain timbulnya kebudayaan sekolah adalah tugas sekolah yang khas yakni mendidik
anak melalui penyampaian sejumlah pengetahuan (kognitif), sikap (afektif),
ketrampilan (psikomotorik) yang sesuai dengan kurikulum dengan metode dan
teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah itu. Sebagai sub-kultur, kultur
sekolah hadir dalam berbagai variasi dalam praktiknya.
·
Implikasi
Kultur Sekolah dalam Perbaikan Sekolah
Deal &
Peterson (1999) memperluas kajian yang menunjukkan betapa kultur berpengaruh
terhadap berjalannya fungsi sekolah. Berikut ini deskripsi mengenai aspek-aspek
kultur sekolah yang berpengaruh terhadap fungsi sekolah:
1.
Visi dan Nilai
(Vision and Values)
Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur yang
penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma yang positif, dan nilai-nilai
yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat dan vitalitas untuk perbaikan
sekolah.
2.
Upacara dan
Perayaan (Ritual and Ceremony)
Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun
jaringan informal yang relevan dengan budaya.
3.
Sejarah dan
Cerita (History and Stories)
Sejarah dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan dan
memancarkan energi budaya. Fokus pada setiap budaya sekolah adalah aliran
sejarah dan peristiwa masa lalu yang turut membentuk budaya berkembang pada
masa kini.
4.
Arsitektur dan
Artefak (Architecture and Artifacts)
Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar
sekolah, dan lorong sekolah untuk memampangkan artefak fisik, efektif dalam
menumbuhkan nilai dan spirit utama sekolah, misalnya melalui poster, majalah
dinding, spanduk, dan pesan inspiratif lainnya.
·
Aneka Praktik
Pengembangan Kultur Sekolah
Kultur sekolah
dimiliki oleh tiap-tiap sekolah. Masing-masing sekolah dapat mengembangkan
keunikan dan ciri khas melalui kultur sekolah. Adapun kultur sekolah yang dapat
dikembangkan antara lain yang kondusif bagi pengembangan:
1.
Prestasi
Akademik
Di sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses
penciptaan iklim akademik yang bertujuan untuk mencapai prestasi akademik.
Prestasi akademik ini biasanya terkait dengan sejumlah mata pelajaran pokok
yang dipelajari di sekolah. Sebagian besar orang tua siswa cenderung menghargai
prestasi akademik daripada prestasi lainnya.
2.
Non-Akademik
Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur
sekolah yang menghargai prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya.
Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur
sekolah yang memberi ruang yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan
untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis.
Selama ini kebanyakan sekolah menganggap penting prestasi akademik siswa.
Profil kecerdasan majemuk siswa yang bervariasi seringkali terabaikan. Padahal
dalam realitasnya, kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi
akademik yang telah dimiliki, melainkan juga disebabkan oleh prestasi
non-akademiknya.
3.
Karakter
Karakter berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan
untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi,
proses dan suasana atau lingkungan yang menarik, mendorong, dan memudahkan
seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik. Adapun variasi nilai karakter yang
dapat dikembangkan melalui kultur sekolah antara lain: yang kondusif bagi
pengembangannilai-nilai religius, nilai demokrasi, kedisiplinan, kejujuran,
ramah anak, anti kekerasan, dan lain-lain.
4.
Kelestarian
Lingkungan Hidup
Sejumlah sekolah yang fokus dalam pengembangan sekolah hijau (green
school) memiliki visi-misi yang berorientasi pada kehidupan dan kondisi
lingkungan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan (sustainability). Untuk
mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam
pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan.
·
Kultur-kultur
yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :
1.
Kultur yang
terkait prestasi/kualitas : (a) semangat membaca dan mencari referensi; (b)
keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup; (c)
kecerdasan emosional siswa; (d) keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara
lisan maupun tertulis; (e) kemampuan siswa untuk bagaimana berpikir obyektif
dan sistematis.
2.
Kultur yang
terkait dengan kehidupan sosial : (a) nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan; (b)
nilai-nilai keterbukaan; (c) nilai-nilai kejujuran; (d) nilai-nilai semangat
hidup; (e) nilai-nilai semangat belajar; (f) nilai-nilai menyadari diri sendiri
dan keberadaan orang lain; (g) nilai-nilai untuk menghargai orang lain; (h)
nilai-nilai persatuan dan kesatuan; (i) nilai-nilai untuk selalu bersikap dan
berprasangka positif; (j) nilai-nilai disiplin diri; (k) nilai-nilai tanggung
jawab; (l) nilai-nilai kebersamaan; (m) nilai-nilai saling percaya; (n) dan
nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan
Menengah Umum, 2003: 25-26).
Hedley Beare
(Sastrapratedja, 2001: 14) mendeskripsikan unsur-unsur budaya sekolah dalam dua
katagori, yakni unsur yang kasat mata/visual dan unsur yang tidak kasat mata.
Yang tidak kasat mata itu adalah filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai
kenyataan yang luas, makna hidup, tugas manusia di dunia dan nilai-nilai, yaitu
apa yang dianggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah. Itu semua harus
dinyatakan secara konseptual dalam rumusan visi, misi, tujuan dan sasaran yang
lebih konkrit yang akan dicapai sekolah.
Adapun unsur yang kasat mata dapat
termanifestasi secara konseptual/verbal maupun visual/ materil. Yang verbal
meliputi: (1) visi, misi, tujuan dan sasaran; (2) kurikulum; (3) bahasa komunikasi; (4)
narasi sekolah; (5) narasi tokoh-tokoh; dan (6) struktur organisasi; (7)
ritual; (8) upacara; (9) prosedur belajar-mengajar; (10) peraturan, sistem ganjaran/hukuman;
(11) pelayanan psikologis sosial; (12) pola interaksi sekolah dengan orang
tua/masyarakat, dan yang materiil dapat berupa: (1) fasilitas dan peralatan;
(2) artifak dan tanda kenangan; (3) pakaian seragam.
Disebutkan
dalam buku Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah (Depdiknas, 2003: 3) bahwa
kultur sekolah memiliki dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan
sebagian tidak dapat diamati. Lapisan yang bisa diamati seperti: arsitektur,
tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas,
peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan,
bendera, gambar-gambar, tanda-tanda sopan santun dan cara berpakaian. Lapisan
yang tidak dapat diamati secara jelas dapat berintikan norma perilaku bersama
warga suatu organisasi. Lapisan keduakultur sekolah berupa nilai-nilai bersama
yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang
benar. Lapisan kedua semuanya tidak
dapat diamati karena terletak di dalam kehidupan bersama. Jika lapisan pertama
yang berintikan norma perilaku bersama sukar diubah, maka lapisan kedua yang
berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat sukar diubah serta memerlukan waktu
untuk berubah.
Kultur sekolah
beroperasi secara tidak disadari langsung oleh para pendukungnya dan telah lama
diwariskan secara turun temurun. Kultur mengatur perilaku dan juga hubungan
internal serta eksternal. Hal ini juga perlu dipahami dan digunakan dalam
mengembangkan beberapa kultur sekolah. Nilai-nilai baru yang diinginkan tidak
akan segera dapat beroperasi apa bila berhadapan/berbenturan dengan nilai-nilai
lama yang sudah berakar akan dapat
menghambat perilaku baru yang mau
diinginkan.
Bila ditinjau
dalam perspektif upaya peningkatan kualitas pendidikan, kultur sekolah dapat
dibagi ke dalam tiga (3) kategori, yaitu; 1) Kultur sekolah yang positif;
kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, misalnya
kerjasama dalam mencapai prestasi yang diinginkan , dengan cara penghargaan
terhadap prestasi, dan komitmen terhadap belajar. 2) Kultur sekolah yang
negatif; kebiasaan atau kegiatan yang kontra terhadap upaya peningkatan mutu
pendidikan. Artinya dalam terhadap perubahan, berupa: guru, staf dan siswa
tidak menunjukkan prestasi yang baik, kurang bersemangat dalam menjalankan
tugas, apatis terhadap aturan sekolah dan jarang melakukan kerja sama. 3)
Kultur sekolah yang netral; kegiatan yang tidak berfokus pada satu sisi namun
dapat memberikan konstribusi positif terhadap perkembangan peningkatan mutu
pendidikan. Hal ini bisa berupa adanya berupa arisan keluarga sekolah, mengadakan
seragam guru, staf dan siswa dan koperasi sekolah.
Jadi bahwa
kultur sekolah merupakan kebiasaan, nilai dan keyakinan yang terimplementasi
dalam kegiatan sekolah Benang merahnya bahwa kultur sekolah merupakan
kebiasaan, nilai dan keyakinan yang terimplementasi dalam kegiatan sekolah yang
menuntut berbagai keterlibatan dan juga tanggung jawab warga sekolah demi
peningkatan kualitas sekolah. Dengan demikian kultur sekolah yang diharapkan
tercipta ialah kebiasaan positif warga sekolah demi tercapainya mutu sekolah.
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi
Pengembangan Kultur Sekolah
Sebagaimana
dikemukakan oleh Taliziduhu Ndraha dalam bukunya, terbentuknya kultur sekolah
memiliki faktor-faktor sebagai berikut:
1.
Faktor internal
yaitu faktor yang bersumber dari dalam lingkungan sekolah itu sendiri. Dalam
hal ini, yang dimaksud adalah visi dan misi para pendiri organisasi yang
dipengaruhi oleh nilai yang termuat di dalam hidupnya, latar belakang sosial,
lingkungan dimana mereka dibesarkan serta jenis dan tingkat pendidikan formal
yang pernah ditempuhnya. Selain itu adalah faktor dari aspek-aspek lembaga
pendidikan, yaitu tenaga pengajar, administrasi, manajerial dan lingkungan
dalam lembaga itu.
2.
Faktor
eksternal yaitu faktor yang bersumber dari lingkungan luar sekolah. Maksudnya
yaitu seperti perkembangan IPTEK dalam globalisasi dunia yang berkembang
semakin pesat, sehingga menimbulkan dampak yang sangat kuat terhadap berbagai
bidang kehidupan, termasuk pada dunia pendidikan.
Dapat diambil
kesimpulan bahwa dalam pengembangannya kultur sekolah terbentuk karena adanya
pengaruh internal (dalam lingkungan sekolah seperti sistem di sekolah) dan
eksternal (luar lingkungan sekolah seperti globalisasi dunia), yang mana
keduanya memiliki pengaruh yang sama-sama kuat. Sehingga tugas daripada
pemimpin sekolah seperti pendiri sekolah dan kepala sekolah adalah mereview
kembali sistem yang sudah diberlakukan di sekolah.
Daftar pustaka
Depdiknas. (2003). Pedoman
pengembangan kultur sekolah. Jakarta: Dikdasmen.
Peterson, Kent. D. 2002. Positive or
Neevelopment Council.
Sastrapratedja SJ., M. (2001).
Budaya sekolah. Dinamika pendidikan, No. 2, 1-18.
Taliziduhu Ndraha, Budaya Organisasi
(Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), hlm. 51.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar