Nama : TRI NOVILIANA
Nim :
11901290
Kelas : PAI 4C
Makul : Magang 1
Kurikulum
Menurut S. Nasution, kurikulum adalah suatu rencana yang disusun
untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab
sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajaran. Kemudian , Nasution
menjelaskan sejumlah ahli teori kurikulum berpendapat bahwa kurikulum bukan
hanya meliputi semua kegiatan yang direncanakan melainkan peristiwa- peristiwa
yang terjadi di bawah pengawasan sekolah. Jadi ada selain kegiatan kurikulum yang formal yang
sering disebut kegiatan ko-kurikuler atau ekstra kurikuler (co-curriculum atau
ekstra curriculum).
Secara terminologis kurikulum dalam pendidikan adalah sejumlah mata
pelajaran yang harus ditempuh dan diselesaikan peserta didik di sekolah untuk memperoleh
ijazah. Pengertian tersebut tergolong pengertian tradisional, dan dari pengertian
tersebut dapat kita amatai bahwa ada impli kasi dari pengertian tradisional
tersebut.
a.
Kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran
b.
Peserta didik harus mempelajari danmenguasai seluruh mata pelajaran
c.
Mata pelajaran tersebut hanya dipelajari di sekolah
d. Tujuan akhir kurikulum adalah untuk memperoleh ijazah
Bahkan Alice Miel memahami bahwa kurikulum meliputi keadaan gedung,
suasana sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan, kecakapan, dan sikap-sikap
orang yang melayani dan dilayani di sekolah dalam memberikan bantuan kepada
siswa termasuk ke dalam kurikulum.
Dalam pengertian lainnya, kurikulum adalah keseluruhan program,
fasilitas, dan kegiatan suatu lembaga pendidi- kan atau pelatihan untuk
mewujudkan visi, misi dan lembaganya. Oleh karena itu, pelaksanaan kurikulum untuk
menunjang keberhasilan sebuah lembaga pendidikan harus ditunjang hal-hal
sebagai berikut. Pertama, Adanya tenaga yang berkompeten. Kedua, Adanya
fasilitas yang memadai. Ketiga, Adanya fasilitas bantu sebagai pendukung.
Keempat, Adanya tenaga penunjang pendidikan seperti tenaga administrasi, pembimbing.
Kelima, Adanya dana yang memadai, keenam, Adanya menejemen yang baik. Ketujuh,
Terpeliharanya budaya menunjang; religius, moral, kebangsaan dan lain-lain,
kedelapan, Kepemimpinan yang visioner transparan dan akuntabel.
·
Dasar
pengembangan kurikulum
Dasar adalah landasan untuk berdirinya sesuatu. Setiap negara
mempunyai dasar pendidikannya sendiri. Ia merupakan cerminan falsafah hidup
suatu bangsa. Pengembangan kurikulum
tidak hanya merupakan abstraksi, akan tetapi mempersiapkan berbagai contoh dan
alternatif untuk tindakan yang merupakan inspirasi dari beberapa ide dan
penyesuaian- penyesuaian lain yang dianggap penting. Menurut Audrey Nicholls
dan Howard Nicholls, sebagaimana dipahami oleh Oemar Hamalik, bahwa
pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan- kesempatan belajar yang
dimaksudkan untuk membawa siswa ke arah perubahan-perubahan yang diinginkan dan
menilai sampai di mana perubahan dimaksud telah terjadi pada diri siswa.
Fungsi dasar atau landasan pengembangan kurikulum adalah seperti
fondasi sebuah bangunan. Sebuah gedung yang menjulang tinggi berdiri di atas
fondasi yang rapuh tentu tidak akan bertahan lama. Oleh sebab itu, sebelum
sebuah gedung dibangun, terlebih dahulu dibangun fondasi yang kokoh. Semakin
kokoh fondasi sebuah gedung, maka akan semakin kokoh pula gedung tersebut.
Fondasi bangunan yang diibaratkan pada uraian di atas adalah dasar
atau landasan dalam merancang sebuah kurikulum. Jadi, berkualitas atau tidaknya
kurikulum yang dirancang, sangat ditentukan oleh dasar pengembangan kurikulum
yang kuat.
Menurut Harrick, sabagaimana dikutip oleh Hamalik bahwa sumber
kurikulum itu ada tiga yaitu; yang pertama, adalah pengetahuan sebagai sumber
yang akan disampaikan kepada anak yang disajikan dari berbagai bidang studi,
kedua, adalah masyarakat sebagai sumber kurikulum di mana sekolah merupakan
agen masyarakat dalam meneruskan warisan-warisan budaya serta memecahkan masalah-masalah
dalam masyarakat. Dan ketiga, individu yang didik sebagai sumber kurikulum di
mana kurikulum disusun dengan maksud untuk membantu perkembangan anak seoptimal
mungkin
Hal serupa mengenai dasar kurikulum juga dikemukakan oleh Nana
Syaodih Sukmadinata, dia mengatakan bahwa ada empat dasar/ landasan utama dalam
pengembangan kurikulum, yaitu; landasan filosofis, landasan psikologis,
landasan sosial-budaya dan landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk lebih
jelasnya, dasar-dasar pengembangan kurikulum tersebut sebagai berikut:
1. Dasar Filosofis dan
Sejarah
Dalam filsafat pendidikan dikenal beberapa aliran filsafat yaitu
progresifisme, esensialisme, perennialisme, rekonstruksionalisme dan
eksistensialisme. Masing-masing aliran mempunyai latar belakang dan konsep yang
berbeda. Aliran progresifisme merupakan aliran yang mengutamakan kebebasan dan
menentang semua bentuk otoriter dan absolutisme. Berbeda dengan aliran
essensialisme yang berusaha menyatukan pertentangan antara konsepsi idealisme dan
realisme. Perennialisme tampil sebagai aliran yang bersifat “progresif” yaitu mundur ke masa lampau sampai abad
pertengahan. Sedangkan aliran rekonstruksionalisme merupakan aliran yang
memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi, yaitu cara manusia berada
di dunia yang berbeda dengan keberadaan materi. Sedangkan aliran
eksistensialisme adalah aliran yang memfokuskan pada pengalaman individu.
Dalam pengembangan kurikulum, tentunya harus
berpijak pada aliran-aliran filsafat tertentu, langkah ini akan memberi
nuansa terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Aliran
Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupa- kan aliran
filsafat yang mendasari terhadap pengembangan model kurikulum subjek-akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme mem-
berikan dasar bagi pengembangan
model kurikulum pendidikan pribadi. Sementara itu, filsafat
rekonstruktivisme banyak diterapkan
dalam pengembangan model kurikulum interaksional.
2. Dasar Psikologis
SyafruddinNurdinmengatakan,bahwapadadasarnyapendidikan tidak
terlepas dengan unsur-unsur psikologi, sebab pendidikan adalah menyangkut
perilaku manusia itu sendiri, mendidik berarti merubah tingkah laku anak menuju
kedewasaan. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar selalu dikaitkan
dengan teori-teori perubahan tingkah laku anak. Beberapa teori tingkah laku
antara lain adalah behaviorisme, psikologi daya, perkembangan kognitif, teori
lapangan (teori Gastalt) dan teori kepribadian.
Terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan
kurikulum, psikologi perkembangan, dan psikologi belajar. Psikologi
perkembangan mempelajari perilaku individu berkenaan dengan per- kembangannya.
Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan
perkembangan, aspek-aspek perkemba- ngan, tugas-tugas perkembangan individu,
serta hal-hal lainnya yang berhubungan dengan perkembangan individu, di mana
semuanya da- pat dijadikan bahan pertimbangan yang mendasari pengembangan
kurikulum. Psikologi belajar merupakan
ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam konteks
belajar. Psikologi Belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori
belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang
dapat dijadikan bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.
Dari uraian di atas, bahwa landasan psikologis dalam pengembangan
kurikulum menempati posisi dan peran penting. Anak merupakan sasaran dan
sekaligus target kurikulum, maka pertimbangan secara psikologis menjadi sesuatu
yang penting dalam merencanakan dan menyusun kurikulum, sehingga dimungkinkan
memperoleh hasil maksimal.
3. Dasar Sosial-Budaya
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan.
Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan.
Ini dapat dimaklumi bahwa pendidikan merupakan usaha sadar untuk mempersiapkan
peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya
untuk pendidikan , namun lebih penting lagi untuk memberikan bekal pengetahuan,
keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan
lebih lanjut di masyarakat.
Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik
formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan
masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan
budayanya menjadi landasan dan sekaligus
acuan bagi pendidikan. Kita tidak mengharapkan munculnya manusia yang
terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi
justru melalui pendidikan
diharapkan lahirnya manusia yang dapat lebih mengerti dan mampu
membangun kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses
pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan
dan perkembangan yang ada di dalam masyakarakat.
Nana Syaodih Sukmadinata mengemukakan, bahwa melalui pendidikan
manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan
membuat peradaban masa yang akan datang.
Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya
mempertimbangkan, merespon dan berlandaskan pada perkembangan sosial-budaya
dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.
Setiap lingkungan masyarakat masing- masing memiliki sistem-sosial-budaya
tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota
masyarakat.
4. Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Awalnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang dimi- liki
manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami
perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan baru terus berlangsung hingga saat
ini. Dapat dipastikan, bahwa masa yang akan datang penemuan tersebut semakin
berkembang. Seiring perkemba- ngan akal manusia yang telah mampu menjangkau hal-hal
yang sebe- lumnya merupakan sesuatu
tidak mungkin. Sebagai ilustrasi, pada zaman dahulu kala, mungkin orang
akan menganggap mustahil kalau manusia bisa menginjakkan kaki di permukaan
Bulan, tetapi berkat kemajuan dan perkembangan IPTEK pada pertengahan abad
ke-20, pesawat Apollo 11 berhasil mendarat di bulan dan Neil Amstrong me-
rupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di bulan.
·
Tujuan
Pengembangan Kurikulum
Pendidikan adalah aktivitas yang dilakukan dengan tujuan tertentu
yang ingin dicapai, sehingga pendidikan dilakukan dengan suatu perencanaan yang
matang. Aktivitas yang menyimpang dari pencapaian tujuan tersebut sedapat
mungkin dicegah karena akan kontra produktif dengan tujuan pendidikan. Tujuan
pendidikan itu sendiri memiliki dua fungsi, memberi arah dan merupakan sesuatu
yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.
Arah dan hasil yang ingin dicapai akan dirumuskan dalam tujuan yang
telah disepakati. Tujuan akan membimbing dan mengarahkan setiap langkah dan
tindakan agar selalu berada dalam alur yang benar dan tidak menyimpang, maka di
samping sebagai penentu arah, tujuan juga berperan sebagai pengawasan dan
pengontrolan aktivitas dalam pendidikan. Pada ketiga jenis istilah ini tidak
memperlihatkan perbedaan yang substansi karena tetap merupakan konsep tujuan
akan tetapi hanya perbedaannya pada levelisasi dan kepentingannya.
Tujuan pengembangan kurikulum juga harus memperhatikan tujuan institusional (tujuan lembaga/satuan pendidikan), tujuan kurikuler (tujuan bidang studi), dan
tujuan instruksional (tujuan pembelajaran). Semuanya perlu dipertimbangkan
dalam mengem- bangkan kurikulum. Di sisi lain dapat ditegaskan bahwa tujuan
pengembangan kurikulum tidak dapat lepas dari tujuan pendidikan itu sendiri,
sebab kurikulum merupakan ujung tombak ideal dari visi, misi dan tujuan
pendidikan sebuah bangsa.
Secara makro, jika di lihat dari beberapa landasan pengembangan
kurikulum pada dasarnya tujuan pengembangan kurikulum mengacu kepada paradigma
pergeseran filsafat pendidikan, perubahan dan per- geseran sosial dan
pengembangan pengetahuan seperti pengembangan sains dan teknologi. Dapat juga
dikatakan bahwa pengembangan kurikulum bertujuan untuk menyikapi persoalan
sosial yang datang seiring perputaran waktu.
Dari paparan di atas dapat dipahami adanya empat tujuan pe-
ngembangan kurikulum yang substansial: 1) merekonstruksi kuri- kulum
sebelumnya; 2) menginovasi; 3) beradaptasi dengan perubahan sosial (sisi
positifnya); 4) mengeksplorasi pengetahuan yang masih tersembunyi berdasarkan
tujuan pendidikan nasional yang telah
dirumuskan. Dari pengembangan kurikulum harus berakar, namun harus juga
berpucuk menjulang tinggi, beranting,
dan berdaun rindang. Berakar
berarti tetap berpegang kepada falsafah bangsa dan menjulang berarti mengikuti
perubahan dan perkembangan zaman.
Referensi
S.
Nasution, Kurikulum dan Pengajaran ( Jakarta: Rineka Cipta, 1989), 5
Alie
Miel, Changing The Curriculum a School
Prosess (New York: D Appleton Century Company, 1946), 10, Romine St, Building The High School
Curriculum (New York: The Ronald Pres Company, 1954), 14.
Oemar
Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, Cet. Ke-4 (Bandung : Remaja
Rosdakarya, 2010), 90.
Wina
Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran,
Teori dan Praktek Pengembangan
Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ( Jakarta: Kencana, 2008), 31.
Nana Syaodih
Sukmadinata, Pengembangan Kurikum;
Teori dan Praktek
(Bandung
: Remaja Rosda Karya, 1997), 56.